Keseragaman vs. Keragaman

Tidak ada banyak yang bisa dikatakan. Aku, kamu, dia, kita, mereka, kalian, mungkin menginjak bumi yang sama, menghirup udara yang sama, tapi kita semua berbeda, kita terlalu beragam.

Dunia selalu merayakan keseragaman yang dimiliki oleh masing-masing kita. Perayaan Idul Fitri untuk mereka yang sama-sama muslim, konser-konser rock untuk mereka para rock and metal gigs yang sama-sama memiliki selera musik keras, perayaan ngaben untuk mereka yang sama-sama berasal dari Bali, dan perayaan lainnya yang dilakukan dengan berlandaskan setidak-tidaknya satu kesamaan. Seolah-olah perayaan keseragaman ini merupakan suatu trik agar dunia tidak menjadi kacau begitu kita menyadari betapa berbedanya kita satu sama lain.

Tidak ada perayaan keragaman, yang ada hanya merayakan keseragaman. Mungkin ada perayaan kesenian daerah yang menampilkan tarian serta kerajinan tangan daerah yang berbeda, namun lagi-lagi dilandaskan karena kita sama-sama berada dalam negara yang sama, satu Indonesia.Tidak ada banyak yang bisa dikatakan. Aku, kamu, dia, kita, mereka, kalian, mungkin menginjak bumi yang sama, menghirup udara yang sama, tapi kita semua berbeda, kita terlalu beragam. Keragaman yang belum dan mungkin tidak akan pernah dirayakan.

Menjadi berbeda adalah hal yang sangat menakutkan. Terlebih, jika perbedaan itu bukan lagi sekedar berbeda secara minoritas, melainkan berbeda sendiri. Padahal, kenyataannya, kita semua memang berbeda, namun kita selalu mencari-cari persamaan yang ada dalam diri kita dengan orang lain agar kita tidak tersisih dari pergaulan luar. Pendefinisian tentang diri kita membuat kita berbeda dari orang lain. Semakin tajam perbedaannya, semakin kita sadar, tidak ada orang yang sama dengan diri kita. Saya adalah satu-satunya saya di dunia ini. Seberapa banyakpun persamaan yang saya miliki dengan (jika saya memiliki) kembar identik sekalipun, kami pasti tetap memiliki perbedaan.

Human Diversity is Awesome!

Banyak sekali keluhan-keluhan mengenai keragaman yang kita miliki. Perbedaan asal negara, perbedaan suku, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, bahkan perbedaan untuk mereka yang mengalami cacat mental, cacat fisik, dan orientasi seksual membuat kita merasa perbedaan merupakan hal yang negatif, kemudian mengeluhkannya.

Kenapa masih sering saja terdengar omongan tajam mengenai Cina, Padang, Yahudi, Wanita, Autis, Buta, Homoseksual, dan sebagainya. Tidak ada yang salah dengan menjadi bagian suku dan ras tertentu. Tidak ada yang salah dengan memilih agama dan pasangan tertentu. Bukan kemauan kita untuk menjadi cacat, juga bukan pilihan kita untuk menjadi pria maupun wanita.

Dalam pendapat saya yang paling pribadi, tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda. Karena seberapapun berbedanya kita, kita tetap memiliki kesamaan dengan yang lain. Kita sama-sama manusia. Dan seperti yang saya tulis sebelumnya, kita hidup di bumi yang sama juga menghirup udara yang sama. Dunia ini bukan diciptakan untuk menilai seberapa banyak kesamaan  dan seberapa banyak perbedaan kita dengan manusia lain. Bukan pula untuk membandingkan keragaman dan keseragaman. Dunia ini hanya tercipta demikian, sehingga kita bisa menghargai perbedaan. Mungkin sekali waktu, kita bisa mengumpulkan beberapa teman-teman kita yang berbeda sukunya, berbeda agamanya, berbeda negaranya pun tak apa, dan berpesta merayakan keragaman dengan umbul-umbul bertuliskan “Human Diversity is Awesome!”

Istiqamah Hafid

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s