Dialog : Kartini Indonesia




LINK KE BLOG DETIK

Perayaan kartini beberapa tahun terakhir ini terus menerus diidentikan dengan pemakaian kebaya dan batik. Acara perlombaan seperti fashion show, seminar seputar kebudayaan, tanya-jawab tentang wanita paling inspiratif, kebanggaan menjadi seorang wanita, dan masih banyak lagi tak bisa terlewatkan pada tanggal 21 April ini. Saya pun salah satu dari kelompok yang mentradisikan diri saya untuk menghormati kartini dengan cara yang demikian. Sampai suatu hari muncullah pertanyaan dari salah seorang teman diskusi saya ketika saya berbincang dengannya.

“Apakah makna kartini Indonesia jaman sekarang hanyalah demikian? Sekadar aktivitas berhura-hura atau, yang sedikit lebih baik, penambahan ilmu tentang kebudayaan? Mana bukti nyata kalian yang mengaku kartini Indonesia?”

Sedikit tersinggung tentu saya pada awalnya. Saya mengajukan topik diskusi kali itu bukan dengan tujuan mengajukan nama saya sebagai kartini muda berikutnya. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya menghormati Kartini sebagai sosok wanita kuat yang bisa mempengaruhi dunia lewat tulisan-tulisannya berdasarkan pengalaman hidupnya yang luar biasa mendorong wanita untuk berkarya dan berjuang. Beliau kemudian menambahkan, bahwa kata kartini baginya adalah kata yang sakral. Kartini bukan gelar yang dapat diberikan untuk mereka yang meniru gaya kartini dengan cara memakai kebaya putih sederhana dengan sanggulan yang simpel. Bukan pula untuk mereka yang menulis “habis gelap, terbitlah terang – edisi kedua”

Saya kemudian menanyakan kepada beliau, “Menurut anda, sosok kartini seperti apa yang anda cari? Sosok kartini seperti apa yang menjadi inspirasi wanita masa kini?”

“Bagi saya, kartini adalah kartini. Seperti bunda theresa, tetaplah dia menjadi bunda theresa. Seperti putri diana, tetaplah dia menjadi putri diana. Tak ada kartini lain selain kartini itu sendiri. Mau seperti apapun anda berusaha menirunya, anda tetaplah anda, dan anda tak akan pernah menjadi kartini. Anda tak merasakan pedihnya hidup di zaman penjajahan, dimana kaum wanita dianggap rendah kedudukannya. Kartini pun tak pernah merasakan gaya hidup anda yang kemana-mana ditemani Blackberry.”

Kompleksitas yang luar biasa hebat dari seorang teman. Debat kami berlangsung lebih sengit malam itu. Dia bertahan di pendapatnya yang mengatakan tak akan ada kartini lain, dan saya berpendapat bahwa kartini sekarang tak perlulah menjadi sosok yang dijajah baik bangsa lain maupun lelaki, tapi setidaknya mereka yang berjuang untuk meningkatkan derajat, harkat dan martabat wanita serta negara haruslah diberikan apresiasi dengan menyandang nama kartini era masa kini.

“Bagi saya, ada cukup banyak kartini hebat di masa kini.” Kata saya. “Ibu saya adalah pejuang keras di bidang pendidikan yang bertujuan memberantas buta huruf yang ternyata masih marak di pedalaman Indonesia dan menggalakan program Wajib Belajar 9 tahun bagi mereka yang putus sekolah. Maka saya akan menganugerahinya gelar KARTINI dan saya mengucapkan itu kepada beliau tanggal 21 April kemarin.”

Saya kemudian melanjutkan, “ada pula guru bahasa Inggris saya semasa SMA dahulu, Miss. Ira Fasa, yang selalu ingin memajukan Indonesia dengan cara belajar ke bangsa asing tanpa meninggalkan hal-hal positif yang dimiliki bangsa kita. Pernah satu kali saya berbincang dengan beliau, dan beliau mengeluhkan banyak hal biadab yang terjadi di Indonesia. Masa-masa ketika korupsi sangat merajalela dan kami tak bisa berbuat suatu apapun selain menghela nafas panjang dan berdoa semoga mereka setidaknya menyadari keeksistensian neraka. Setiap kali mendengarkan keluhan mereka yang mengejek Indonesia, terkadang saya menyadari, doktrinan mereka hanya akan menjadi penyubur rasa kebencian saya terhadap masyarakat bangsa kita. Realita yang terjadi di sekitar lingkungan hidup saya, membuat saya semakin tak ingin menjalani kehidupan lebih lama di negara ini. Namun, ketika saya tanyakan pada beliau, “miss, malukah miss Ira menjadi masyarakat Indonesia?”, beliau tertawa kecil. “Tidak, saya selalu bangga menjadi bagian dari bangsa ini.” Katanya penuh percaya diri. Seketika pupuslah perasaan benci saya, saya malahan semakin tertantang untuk memajukan Indonesia, membuka mata mereka untuk menghargai dan mendukung orang-orang hebat yang memang bertujuan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, bukan mereka yang hanya haus jabatan dan kekuasaan sehingga menghalalkan segala cara. Kemudian beliau memaparkan apa-apa yang dimiliki bangsa kita yang tidak dimiliki bangsa lain, dan betapa keseluruhan budaya kita ini sangat ‘ngangenin’ ketika kita terpisah jauh darinya. Dialah sosok KARTINI masa kini bagi saya, wanita yang bangga akan Indonesia dan tak membiarkan dirinya menjadi bagian yang terpengaruh bangsa asing.”

Cukup panjang cerita saya, sehingga teman diskusi saya kali ini mangut-mangut. Saya tersenyum penuh kemenangan, saya tahu mereka layak diberikan penghargaan semacam itu.

“Hebat betul kedua orang yang kau ceritakan barusan, saya akan mengingat mereka berdua dengan namanya. Tapi, mereka bukan kartini. Mereka adalah Ernawaty Amrah dan Ira Fasa. Seseorang-dua orang yang belum dikenal namanya oleh masyarakat luas. Seorang-dua orang yang melakukan sesuatu untuk negara dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan hari lahir mereka nanti akan dipenuhi dengan wanita-wanita lain yang berlomba-lomba meniru gaya pakaian mereka. Seorang-dua orang yang sudah melakukan tindakan nyata memajukan peradaban manusia Indonesia, tidak hanya lewat tulisan. Mereka lebih hebat dari Kartini. Biarkan saya menjunjung namanya dengan mengingat nama mereka yang seutuhnya, bukan sebagai ‘kartini masa kini’!”

“Oh, tuan yang terhormat, lihatlah di seluruh belahan pelosok tanah negeri kita tercinta ini. Hari ini adalah hari dimana semua wanita hebat pasti diberikan nama ‘kartini masa kini’. Kenapa anda harus terus menerus bersikeras mengatakan bahwa tidak ada kartini lain selain kartini?”

“Oh, dan sejak kapan kamu terpaku kepada keumuman, isty?”

Bagi saya berbicara dengan sahabat yang satu ini, membuka wawasan saya akan sesuatu, bersamaan dengan membuat saya memikirkan hal-hal baru dengan cara yang jauh lebih rumit. Tidak sekadar 1 ditambah 1 sama dengan 2, namun melewati pendapat-pendapat lain yang mengatakan 1 ditambah 1 sama dengan 11 atau 1,1. Bukan main menguras waktu dan otak ketika memikirkannya, tidak tahu apakah saya sedang membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar. Bisa pula kedua-duanya adalah hal yang benar, atau bisa pula kedua-duanya adalah hal yang salah. Permainan logika yang didasarkan pada kerumitan dan daya tahan si otak kanan untuk berjuang.

Ada beberapa pendapat beliau yang saya setuju. Saya pun tak akan pernah senang dianggap Ernawaty masa kini. Bahkan saya tak senang pula jika dianggap kartini zaman modern. Padahal siapalah saya, saya tak melakukan hal-hal sehebat apa yang mereka lakukan.  Saya lebih senang dikenal dengan nama saya sendiri. Bertahun-tahun lamanya saya hidup di bawah bayangan kehebatan kedua orang tua saya, dimana yang satu bekerja demi pemerintahan yang lebih baik, yang satu lagi bekerja di bidang sosial tanpa mendapatkan gaji yang layak. Beberapa kali saya merasa rendah diri disandingkirikanankan dengan mereka. Saya bukan sesiapa.

Oh, tapi saya akan menjadi seseorang. Tentu saya akan menjadi seseorang yang hebat, yang akan membuat saya nantinya meninggalkan dunia ini tanpa perasaan telah menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan.

“Kataku tadi, kartini adalah kata yang sakral. Jika begitu banyak kartini di Indonesia ini, kenapa harus mendefinisikan para pejuang wanita hebat sebagai Kartini? Biar saja mereka hebat dengan namanya sendiri, tak perlu embel-embel Kartini. Bisa saja mereka lebih hebat dari Kartini itu sendiri. Nama kartini tadi kataku adalah kata yang sakral. Ketika satu kata yang sakral menjadi suatu keumuman, maka makna kesakralannya akan hilang. Yang tertinggal adalah nama-nama kartini tanpa makna kartini di dalamnya.

Dari dialog 90 menit yang kami langsungkan, saya menyadari, sahabat saya yang satu ini membanggakan Kartini dengan caranya sendiri. Tak perlu membandingkan dengan dahulu, tatap saja masa sekarang. Dia tak perlu menepis adanya wanita-wanita hebat masa kini sebagai ‘penerus’ Kartini yang mungkin saja jauh lebih inspiratif dibanding Raden Ajeng kita itu.

Prinsip hidup saya, kamu, kami, kalian, dan mereka adalah berbeda dengan dia (red : Kartini). Jika memang kartini adalah gelar yang diberikan pada perempuan Indonesia yang hebat, maka akan banyak sekali nama Kartini di Indonesia. Tak akan ada lagi Astri, Rani, Tita, Hanindia, Dwinta, Putu, Stephanie, Dea, Mumut, Ica, Inez, Maya, Gitta dan yang lainnya. Yang ada hanya K-a-r-t-i-n-i.  Hanya wanita-wanita yang tak menghargai dirinya sendiri dengan berbuat keculasan, korupsi baik skala besar maupun kecil-kecilan, minuman keras dan pergaulan bebas, perbuatan-perbuatan yang merugikan masyarakat tak bersalah yang tak layak dijadikan kartini. Jumlah pejuang wanita kita masih lebih dari cukup dengan tindakan-tindakan nyata yang mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia nantinya, membuat Indonesia tak lagi dimendungi kemalangan. Yang perlu diwaspadai adalah turunnya jumlah pejuang wanita Indonesia ini akibat besarnya pengaruh budaya barat yang semakin menyerbak ke lingkungan budaya Indonesia.

Untuk teman-temanku, seluruh wanita Indonesia, yakinkah ini dalam lubuk hati yang paling dalam.

Kita pasti mampu menjadi penerus Kartini.

Istiqamah Hafid
bukan seorang Kartini, kami Penerus nya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 thoughts on “Dialog : Kartini Indonesia

  1. Terima kasih komentarnya :) Saya merasa tulisan ini tidak sesuai tema yang diajukan panitia, namun masih diberikan merchandise :D haha.
    Blog ini sekedar penambah ilmu pengetahuan, sedangkan yang di account saya yang ini, saya menuangkan curahan hati saya pula sehari-hari :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s